Tips Mengatasi Demam Panggung
Pertama kali naik ke panggung adalah saat usia 5 tahun. Waktu itu saya membacakan ayat-ayat alqur'an. Senangnya bisa pegang mik dan ditonton banyak orang. Riuh tepukan menambah senangnya hati ini.
Saat SD aku kembali menaiki panggung. Kelas 1 SD manggung lagi di sekolah. Menari bersama beberapa teman kelas. Kami menampilkan 1 tarian anak sebagai pengisi acara wisuda dan perpisahan kelas 6. Sudah mulai ada kegugupan yang muncul sebelum naik ke atas panggung, apalagi ketika melihat banyak orang tang menonton.
Di tempat pengajian saya menampilkan pidato keislaman. Rasanya makin besar malah makin demam lihat orang-orang di bawah panggung. Alhasil pidato yang saya bawakan kurang maksimal karena diawali dengan kegugupan. Ekspresi diri menjadi kurang terkontrol ketika demam panggung menghinggapi.
Demam panggung itu datang ketika melihat penonton yang banyak. Seperti memperhatikan kita. Jadi ibarat pusat perhatian. Akhirnya jadi takut salah dan takut ditertawakan.
Beranjak dewasa saat saya sudah SMA, semakin sering tuntutan untuk naik ke panggung. Mulai dari tugas sekolah hingga acara perayaan hari besar islam. Tidak cukup disitu. Tampil di depan kelas pun jadi demam panggung, padahal yang melihat hanya orang itu-iti saja. Kebangetan memang, apa yang garus ditakutkan dari teman sekelas.
Akhirnya saya dapat tips dari seorang guru. Agar percaya diri saat naik ke panggung, pertama baca bismillah. Kedua, awali dengan senyum ketika melihat penonton. Dengan begitu kegugupan akan berkurang. Ketiga, tatap bagian atas kepala agar tidak fokus ke mata.
Saya mencoba mempraktekan pesan guru itu. Benar saja demam panggung berkurang. Riuh tepuk tangan menjadi penyemangat untuk memberikan yang terbaik. Ketika datang ketakutan justru harus dihadapi. Toh tidak terjadi apa-apa selama di panggung. Justru tempat itulah yang harus digunakan sebaik-baiknya untuk belajar.
Comments
Post a Comment