Pengalaman Membaca

      Sedari kecil aku sangat senang membaca. Ketika ada program perpustakaan di SD aku melahap buku-buku mulai dari majalah anak sampai kisah Para Nabi. Ketertarikan itu dimulai ketika ada majalah anak “Si kuncung”. Melihat sampulnya saja sudah membuat hati riang. Begitupun ketika membaca cerita-cerita lucu di dalamnya.  Warna-warni majalah itu membuatku dan teman-teman kadang berebut mengambilnya di rak perpustakaan sekolah. 

     Rasa keingintahuan berkembang. Aku mulai membaca buku tanpa gambar. Nama “Muhammad SAW” tertulis indah di buku itu. Lembar demi lembar kubaca, tak terasa waktu dan banyak halaman yang telah terlipat. Rupanya tanpa gambar pun bacaan itu dapat menghangatkan hati. Tak hanya itu, guru kelasku juga selalu mengingatkan untuk senantiasa membaca buku, agar pintar dan pengetahuan bertambah. Kuingat saat guru kesayanganku merekomendasikan sebuah buku berjudul “ Tsunami” entah siapa pengarangnya. Yang jelas saat itu kami terhanyut dalam kesedihan ketika mendengar sinopsis yang diutarakan di depan kelas itu. Alhasil, saat istirahat tiba kami berebut mendapatkan buku itu di perpustakaan. 

     Mendengar kata tsunami untuk pertama kali terdengar lucu, Kukira makanan dari Jepang. Dan pada waktu itu tahun 1999 bencana dasyat belum menimpa Indonesia sesering saat ini. Buku itu hanya sebuah cerita fiksi tentang seorang anak yang daerahnya terkena tsunami. Dahulu tak terbayangkan. Namun kini benar-benar menimpa anak-anak Indonesia. 

     Ada lagi judul yang menarik tentang cerita rakyat Garut , Jawa Barat tempat ku tinggal. “Nyi Endit”, itulah cerita tentang awal mula terbentuknya sebuah destinasi wisata danau yaitu Situ Bagendit. Entah benar atau tidak, yang jelas cerita itu sudah ada sejak dulu. Nyi Endit yang kubayangkan berbadan besar dengan kebaya dan rambut yang disanggul tapi pelitnya selangit. Hingga setiap kali berwisata kesana, yang ada dalam pikiranku adalah Nyi Endit. 

     Dari kecil hingga dewasa. Buku menjadi teman yang tak dapat ditinggalkan. Berbagai kejadian dari belahan dunia bisa didapat lewat membaca. Benarlah sebuah ungkapan “Buku adalah jendela dunia”. Maka perkenalkanlah buku pada anak-anak Agar mereka senang menjelajahi dunia dengan membaca. 


Comments